Saturday, May 14, 2016 @ 10:38 PM
Tidak Ada Jakarta Hari Ini
I.
Khayal dan nyataku dipisah satu petikan jari.
Tapi jari-jariku kaku.
Aku lebih suka merasa merasa hangat tubuhmu di malam hari,
ketimbang memakna tiadanya peluk dan hangat tubuh lain di punggungku
dan betapa asing namaku bagi bibirmu.
Khayal dan nyataku dipisah satu petikan jari.
Dan jari-jariku kaku.
II.
Aku benci mencintaimu.
Rasanya seperti terbang tanpa tiket dan pijakan sejauh 35.000 kaki di atas permukaan bumi
lalu kemudian jatuh
tapi sakitnya tak buat lumpuh
tapi sakitnya tak buat berhenti.
Esoknya aku terbang lagi
tanpa tiket dan pijakan sejauh 35.000 kaki di atas permukaan bumi
lalu kemudian jatuh
tapi aku masih belum lumpuh.
Esoknya aku jatuh lagi.
III.
Mataku mengenalimu di antara pundak-pundak asing yang saling sentuh di penuh padat manusia pusat kota.
Telingaku mengenalimu di antara melodi yang mengalir ke telingaku di malam-malam sepi saat bulan terlalu jauh di atas kepala dan cahaya hanya datang dari redup lampu trotoar Jakarta.
Hatiku mengenalimu di antara kata-kata yang aku tulis di bawah sadarku, dan kata-kata yang ku ucap di alam bawahnya.
Khayal dan nyataku dipisah satu petikan jari.
Tapi jari-jariku kaku.
Aku lebih suka merasa merasa hangat tubuhmu di malam hari,
ketimbang memakna tiadanya peluk dan hangat tubuh lain di punggungku
dan betapa asing namaku bagi bibirmu.
Khayal dan nyataku dipisah satu petikan jari.
Dan jari-jariku kaku.
II.
Aku benci mencintaimu.
Rasanya seperti terbang tanpa tiket dan pijakan sejauh 35.000 kaki di atas permukaan bumi
lalu kemudian jatuh
tapi sakitnya tak buat lumpuh
tapi sakitnya tak buat berhenti.
Esoknya aku terbang lagi
tanpa tiket dan pijakan sejauh 35.000 kaki di atas permukaan bumi
lalu kemudian jatuh
tapi aku masih belum lumpuh.
Esoknya aku jatuh lagi.
III.
Mataku mengenalimu di antara pundak-pundak asing yang saling sentuh di penuh padat manusia pusat kota.
Telingaku mengenalimu di antara melodi yang mengalir ke telingaku di malam-malam sepi saat bulan terlalu jauh di atas kepala dan cahaya hanya datang dari redup lampu trotoar Jakarta.
Hatiku mengenalimu di antara kata-kata yang aku tulis di bawah sadarku, dan kata-kata yang ku ucap di alam bawahnya.
leave a comment [0]