Sunday, March 1, 2015 @ 7:46 PM
Luka
"Kamu tahu," Anna memulai pembicaraan setelah turun dari bianglala. Pasar malam itu seharusnya menjadi tempat terakhir di mana kamu bisa menemukan Anna. Namun hari minggu itu bukan hari minggu yang biasa saja.
Darius berjalan sedikit di belakang Anna, dengan kembang gula di tangan kanannya. Darius mempercepat langkahnya saat ia mendengar Anna akan mengatakan sesuatu.
"Saya punya luka," begitu kata Anna.
Darius masih tersenyum seperti seorang pria usia 19 tahun, seperti ia seharusnya. Bahkan kini ia makin banyak memindahkan kembang gula itu ke mulutnya.
Anna berhenti berjalan.
Darius berhenti beberapa langkah setelahnya. Darius menoleh ke belakang. "Kenapa?"
"Kamu dengar kan, tadi saya bilang apa?" suara Anna tegas, meninggi, dan menuntut.
"Iya, saya dengar," Darius masih menoleh ke belakang, mulutnya berusaha mencerna kembang gula berwarna merah muda itu.
"Lalu?" Anna bertanya untuk kesekian kalinya malam itu.
Anna tidak pernah tau siapa Darius, tetapi Darius tahu lebih dari cukup mengapa Anna tidak mau tahu. Anna bertanya, tetapi Anna tidak pernah tahu kepada siapa ia bertanya. Karena Anna belum tahu siapa pria dengan kembang gula dihadapannya itu, namun Darius tahu lebih dari cukup mengapa langkahnya berhenti di sana. Bukan sebelum ia bertekad mengenal Anna lebih jauh.
"Lalu? Lalu kenapa?" kini Darius yang bertanya. "Kamu pikir saya akan pergi setelah kamu bilang kamu punya luka?"
Anna terdiam.
Darius berjalan sedikit di belakang Anna, dengan kembang gula di tangan kanannya. Darius mempercepat langkahnya saat ia mendengar Anna akan mengatakan sesuatu.
"Saya punya luka," begitu kata Anna.
Darius masih tersenyum seperti seorang pria usia 19 tahun, seperti ia seharusnya. Bahkan kini ia makin banyak memindahkan kembang gula itu ke mulutnya.
Anna berhenti berjalan.
Darius berhenti beberapa langkah setelahnya. Darius menoleh ke belakang. "Kenapa?"
"Kamu dengar kan, tadi saya bilang apa?" suara Anna tegas, meninggi, dan menuntut.
"Iya, saya dengar," Darius masih menoleh ke belakang, mulutnya berusaha mencerna kembang gula berwarna merah muda itu.
"Lalu?" Anna bertanya untuk kesekian kalinya malam itu.
Anna tidak pernah tau siapa Darius, tetapi Darius tahu lebih dari cukup mengapa Anna tidak mau tahu. Anna bertanya, tetapi Anna tidak pernah tahu kepada siapa ia bertanya. Karena Anna belum tahu siapa pria dengan kembang gula dihadapannya itu, namun Darius tahu lebih dari cukup mengapa langkahnya berhenti di sana. Bukan sebelum ia bertekad mengenal Anna lebih jauh.
"Lalu? Lalu kenapa?" kini Darius yang bertanya. "Kamu pikir saya akan pergi setelah kamu bilang kamu punya luka?"
Anna terdiam.
leave a comment [0]