Wednesday, November 5, 2014 @ 9:11 PM
Saya, Kamu, dan Tembakau
Tinggi mu boleh satu hasta lebih jauh dari tanah jika dibandingkan dengan saya. Tetapi dari sejauh satu jengkal, saya bisa mencium aroma tembakau yang masih menari-nari disekitar bibirmu, di kerah bajumu, juga di pergelangan tangan kananmu. Dan entah seberapa besar saya membenci asap, saya tidak pernah bisa menolak jika aroma keras itu sudah datang dari kamu.
Saya bahkan bisa mati karena asap. Penyempitan rongga pernapasan itu bukan lelucon saat saya berada di dekat kamu. Kamu perokok berat. 5 menit saya berada di sekitarmu, oksigen yang masuk ke paru-paru saya pun tak akan seberapa. Dan begitu pula yang akan terjadi pada mu 10 tahun lagi, kalau kamu masih nekat menghabiskan puluhan batang sigaret tiap harinya.
Ayah bilang kalau dia pikir dia pernah sangat tolol dan keras kepala saat ia masih menghisap 12 batang rokok tiap harinya, 8 tahun yang lalu. Dan seharusnya saya pun begitu. Seharusnya saya berpikir kalau kamu tolol dan keras kepala. Bahkan masih bisa saya tambahkan pemalas dan tidak punya perasaan, kalau saya mau.
Tetapi kadang dalam satu detik saja saya membuat diri saya lupa. Dalam satu detik, saya bisa melupakan ketololanmu, betapa keras kepalanya kamu, semalas apa kamu, dan seberapa bengis dan kejam hatimu.
Ironisnya, saya bisa lupa semua karena 1 detik aroma sigaretmu.
Se-menyedihkan itu.
(Ditulis setelah membaca kutipan dari Saman—1998, hal. 22-23, oleh Ayu Utami)
Saya bahkan bisa mati karena asap. Penyempitan rongga pernapasan itu bukan lelucon saat saya berada di dekat kamu. Kamu perokok berat. 5 menit saya berada di sekitarmu, oksigen yang masuk ke paru-paru saya pun tak akan seberapa. Dan begitu pula yang akan terjadi pada mu 10 tahun lagi, kalau kamu masih nekat menghabiskan puluhan batang sigaret tiap harinya.
Ayah bilang kalau dia pikir dia pernah sangat tolol dan keras kepala saat ia masih menghisap 12 batang rokok tiap harinya, 8 tahun yang lalu. Dan seharusnya saya pun begitu. Seharusnya saya berpikir kalau kamu tolol dan keras kepala. Bahkan masih bisa saya tambahkan pemalas dan tidak punya perasaan, kalau saya mau.
Tetapi kadang dalam satu detik saja saya membuat diri saya lupa. Dalam satu detik, saya bisa melupakan ketololanmu, betapa keras kepalanya kamu, semalas apa kamu, dan seberapa bengis dan kejam hatimu.
Ironisnya, saya bisa lupa semua karena 1 detik aroma sigaretmu.
Se-menyedihkan itu.
(Ditulis setelah membaca kutipan dari Saman—1998, hal. 22-23, oleh Ayu Utami)
leave a comment [0]