home
about
Denisa, female, 18
Indonesia

the 21st century version of rené descartes on a much lower intelligence level
links
soundcloud
instagram
archive
backward forward
long gone
"The problems arise when we begin to believe literally in our own metaphors."
— Dan Brown
Friday, October 3, 2014 @ 9:01 PM
Chasing Pavements - Adele
Kami semua berhenti berharap, saat ekspektasi datang di mata kaki realita.

Kita semua sudah dibutakan dengan sebuah mind set yang bilang kalau harapan adalah cikal bakal dari keberhasilan. Semua orang mengelu-elukan harapan, hopes, dreams, dan semua bullshit yang sudah kita konsumsi sehari-hari. Dan semua pihak optimis yang selalu membekali kita dengan retorika yang sengaja dibuat sedemikian rupa agar kita merasa seolah baru bangun dari tidur panjang kita sebagai seorang pemenang.

Maaf, aku hanya seorang pesimis dengan logika yang masih cetek.

Tetapi ini kan sudut pandangku. Aku berpikir begitu. Dan dari apa yang sudah aku alami, memang begitu. Saat berharap dan memasang mimpi setinggi langit (seperti apa yang diperintahkan kaum optimistis), kita punya ekspektasi yang tinggi kan?

Jelas, kamu bermimpi. Kamu pasti punya visualisasi tentang mimpi itu. Setidaknya kamu punya bayangan tentang apa yang akan terjadi kepadamu seandainya kamu bisa mencapai mimpi itu.

Dan beberapa detik yang lalu aku memutuskan untuk membuang saja semuanya jauh-jauh.

Semuanya seolah... Hopeless. Semua tidak ada ujungnya, dan semua seolah sia-sia saja. Misteri akan masa depan ini sering sekali membuatku jengkel bukan main. Semua hal yang punya relasi dengan masa depan, mimpi, dan harapan itu sudah membuatku jengkel.

Kalau ada seorang optimis yang membaca tulisanku ini, entahlah. Mungkin mereka sudah punya visualisasi tengah mendampratku dan menghujaniku dengan ceramah masa depan yang penuh kecerahan. Sayangnya, itu semua harapan. Dan dengan sangat berat hati, aku harus menjatuhkan ekspektasi yang terlalu tinggi itu dengan fakta bahwa sekarang aku tengah duduk manis di depan laptopku dengan secangkir teh hangat dan hidung yang tersumbat.

Maaf.

Bermimpi itu seperti melemparkan harapanmu ke sebuah ruang tanpa batas, yang bisa membawa mimpimu ke mana saja tanpa kamu tahu. Kalau kamu beruntung, mimpi mu akan sampai di sebuah tempat yang kamu ekspektasi kan. Kalau tidak... ya, begitu.

Aku belum pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri sesuatu yang sesuai dengan ekspektasiku. Semua SELALU lebih buruk dari apa yang aku bayangkan. Entah seberapa besar usaha dan persiapan yang aku lakukan.

Jadi, berhentilah bermimpi.

Bangun.