home
about
Denisa, female, 18
Indonesia

the 21st century version of rené descartes on a much lower intelligence level
links
soundcloud
instagram
archive
backward forward
long gone
"The problems arise when we begin to believe literally in our own metaphors."
— Dan Brown
Thursday, October 9, 2014 @ 10:01 PM
October 9th
Aku tidak pernah tau ada yang namanya rasa ingin menangis tapi tidak bisa.

Aku benci. Benci sekali dengan dunia.

Kenapa kamu harus diciptakan secara sepihak? Kamu tidak diberi kesempatan untuk memilih jadi siapa kamu dilahirkan, apa yang akan kamu lewati, kapan kamu hidup, siapa saja yang akan jadi bagian hidupmu,

Bahkan nama, identitasmu yang paling utama itu pun, kamu tidak punya kesempatan untuk memilihnya.

Semua seperti diberikan kepadamu secara otoriter, sepihak, dan kamu harus menerimanya mentah-mentah. Seadanya. Seaslinya. Kamu tidak punya kesempatan untuk menolak dan bilang kalau kamu tidak suka. Kamu tidak diberi kesempatan untuk meminta sesuatu yang kamu pikir akan lebih baik di dirimu.

Dan kamu membencinya, bukan karena kamu tidak bisa menerimanya. Bukan karena kamu, tetapi karena orang lain yang tidak bisa menerimanya.

Persetan dengan hukum yang bilang kamu bisa mengubah hal-hal yang nyaris mutlak itu dengan sebuah menu favorit kaum optimis: usaha. Beberapa-- bukan. Banyak, hal yang kamu tidak bisa ubah lagi. Dan alasannya sederhana. Takdir, nasib, sudah terjadi, nyaris tidak mungkin akan terjadi.

Dan kalau kamu, kamu adalah takdir, nasib, sudah terjadi, dan nyaris tidak mungkin akan terjadi-ku yang aku benci setengah mati.

Puitisnya, kamu itu matahari malam. Tidak mungkin. Tidak akan mungkin. Aku benci kamu. Kamu bahkan tidak tahu aku pernah tidak benci kamu.

Aku benci kenapa semua aspek kehidupan seolah bilang tidak di depan wajahku, padahal aku baru mau buka mulut dan menyebutkan namamu. Bahkan ketika aku nekat melangkah satu langkah lewat batas maya yang aku buat sendiri itu, dunia langsung menendangku jauh-jauh dari kamu.

Jauh, sampai aku kembali lagi berhadapan dengan fakta bahwa ada yang namanya takdir, nasib, sudah terjadi, dan nyaris tidak mungkin akan terjadi. Takdir seolah bilang kamu air dan aku api.

Aku benci hidup yang meletakkan kita di dua dunia berbeda.