Monday, September 29, 2014 @ 9:26 PM
When I Look At You
Kamu bisa menebak kalau isinya akan se-klise judulnya. Dari yang sering sekali aku ucapkan. dari judul, kamu bisa tahu selera penulisnya. Seperti cerita roman picisan di website gratisan itu. Aku sih tidak akan berfikir dua kali untuk membaca cerita semacam itu. Tentu saja jawabannya tidak.
Bukannya aku meremehkan kualitas. Tapi kan, cerita-cerita di website itu tidak qualified (ini juga sudah sering aku katakan). Jadi sebenarnya bukan salahku juga kalau aku bilang cerita di sana punya kualitas minim. Kalau dia yakin tulisannya bagus, dia kan tinggal kirim naskah ke penerbit (tentunya tidak semudah yang aku ucapkan, tapi mengertikan maksudnya?).
Jadi.
Saat aku melihat kamu.
4 kata pembentuk sebuah kalimat sok puitis dan keindahan retorika yang sok tinggi. Saat aku melihat kamu.
Kalau dibaca sederhana, tetapi kalau kamu rasakan?
Sederhana juga, sih.
Ini kan bergantung ke sebuah subjek, dan subjek selalu mengambil peran banyak dalam penilaian subjektif (retoris sekali). Jadi ini semua kembali ke awal. Siapa yangkamu aku lihat?
Sekarang semua orang sudah bisa baca tulisan melankolis ku ini. Aku juga sudah mengumpulkan keberanian sejak... entahlah. Tiba-tiba suatu hari aku kesetanan dan langsung saja mem-publish laman website ini. Lihat saja 3 tahun lagi. Aku tidak akan bisa lebih malu lagi saat baca tulisanku saat kelas 2 SMA.
Kembali lagi. Jadi, saat aku melihat kamu.
Jawabannya: Aku tidak tahu rasanya apa.
Kamu kan, muncul seperti mimpi saja. Dan apa yang kamu rasakan saat bermimpi? Tergantung situasinya. Kamu bisa saja senang, bisa saja jatuh. Lalu apa yang kamu lakukan saat bermimpi? Kamu cuma diam saja.
Ah sudah. Aku sudah kehilangan jati diri di tulisan lebih dari 5 paragraf ini. Aku harus ulang dari awal.
Begini terus, kan?
Bukannya aku meremehkan kualitas. Tapi kan, cerita-cerita di website itu tidak qualified (ini juga sudah sering aku katakan). Jadi sebenarnya bukan salahku juga kalau aku bilang cerita di sana punya kualitas minim. Kalau dia yakin tulisannya bagus, dia kan tinggal kirim naskah ke penerbit (tentunya tidak semudah yang aku ucapkan, tapi mengertikan maksudnya?).
Jadi.
Saat aku melihat kamu.
4 kata pembentuk sebuah kalimat sok puitis dan keindahan retorika yang sok tinggi. Saat aku melihat kamu.
Kalau dibaca sederhana, tetapi kalau kamu rasakan?
Sederhana juga, sih.
Ini kan bergantung ke sebuah subjek, dan subjek selalu mengambil peran banyak dalam penilaian subjektif (retoris sekali). Jadi ini semua kembali ke awal. Siapa yang
Sekarang semua orang sudah bisa baca tulisan melankolis ku ini. Aku juga sudah mengumpulkan keberanian sejak... entahlah. Tiba-tiba suatu hari aku kesetanan dan langsung saja mem-publish laman website ini. Lihat saja 3 tahun lagi. Aku tidak akan bisa lebih malu lagi saat baca tulisanku saat kelas 2 SMA.
Kembali lagi. Jadi, saat aku melihat kamu.
Jawabannya: Aku tidak tahu rasanya apa.
Kamu kan, muncul seperti mimpi saja. Dan apa yang kamu rasakan saat bermimpi? Tergantung situasinya. Kamu bisa saja senang, bisa saja jatuh. Lalu apa yang kamu lakukan saat bermimpi? Kamu cuma diam saja.
Ah sudah. Aku sudah kehilangan jati diri di tulisan lebih dari 5 paragraf ini. Aku harus ulang dari awal.
Begini terus, kan?
leave a comment [0]