Saturday, August 16, 2014 @ 8:42 PM
Question of the Day: Who or what made you smile today?
Seharian ini aku dan adik bungsuku habiskan di kompleks Sekolah Dasarnya. Dia karate, dan aku ada rapat organisasi Pramuka di sana. Saat berada di tengah rapat, aku lihat segerombolan anak dengan pesawat-pesawat kertasnya bermain dengan sedikit brutal di dekat sana. Aku mendekati mereka, awalnya berniat mengingatkan mereka supaya berhenti sebrutal itu. Lalu tiba-tiba aku melihat adikku berlari dan ikut bermain di antara mereka. Jadi mereka teman sebaya adik bungsuku.
Dia sudah selesai karate rupanya.
Awalnya aku mau tetap mengingatkan mereka, kemudian meninggalkan saja mereka bermain. Mereka laki-laki, aku seharusnya tak heran jika mereka sedikit brutal. Tetapi aku mencium gerak-gerik aneh diantara mereka. Dan aku benar. Mereka seolah menolak kehadiran adikku. Sampai akhirnya adikku lelah mengejar mereka, dan dia menghampiriku. Dia bilang dia mau teh manis.
Akhirnya kami membeli segelas es teh manis dan meminumnya berdua. Baru satu kali aku meneguk es teh, dan dia langsung mengambil alih gelas es teh dan meminumnya sampai habis. Dari mukanya, aku tahu dia menyembunyikan sesuatu. Jadi aku mendesaknya untuk bercerita kepadaku, seperti yang selalu ia lakukan kalau ia merasa tidak senang.
"Tadi aku minta minuman teh nya alvaro," dia bilang begitu.
"Terus?"
"Kata Alvaro gak boleh."
Hatiku mencelos. Adikku selalu begitu. Dia adalah anak kecil tercerdas yang aku kenal, dengan kemampuan mengingat dan menghitung yang luar biasa. Dia memiliki kemampuan berhitung diatas rata-rata untuk usianya, termasuk 5% dari populasi dunia. Dia banyak bicara, dan aku berspekulasi bahwa itu lah caranya menuangkan jalan pikirannya yang berbeda dengan teman-teman sebayanya itu. Dan itu juga yang mudah membuat anak kecil seusianya jenuh dan merasa kesal.
Dia pengidap ADHD, dan itu menjelaskan kenapa ia sulit bicara dan teman-teman sebayanya tak suka dengannya.
"Terus kamu bilang apa?"
"Aku bilang, 'yasudah tidak apa-apa', begitu kak."
Kemudian kami diam untuk beberapa saat. Dia duduk dengan gelas di tangannya, dan aku yang tersenyum seraya menahan air mataku sendiri. Aku tidak pernah tau anak seusianya bisa menjawab seperti itu. Ku pikir dia hanya diam saja, karena jika aku ada di sana, maka aku cuma akan diam dan melengos pergi. Tetapi ternyata anak kelas 1 Sekolah Dasar itu lebih memilih untuk bilang 'tidak apa-apa' dan masih mau bermain dengan mereka, meskipun segerombolan anak itu lebih memilih untuk menjauh dan menolak kehadiran adik bungsuku itu.
Dan hari ini, aku belajar tentang ketulusan dan kesabaran dari adik bungsuku yang asik dengan segelas teh manisnya.
Terkadang aku lebih belajar banyak darinya dari pada dia belajar dari aku.
Dia sudah selesai karate rupanya.
Awalnya aku mau tetap mengingatkan mereka, kemudian meninggalkan saja mereka bermain. Mereka laki-laki, aku seharusnya tak heran jika mereka sedikit brutal. Tetapi aku mencium gerak-gerik aneh diantara mereka. Dan aku benar. Mereka seolah menolak kehadiran adikku. Sampai akhirnya adikku lelah mengejar mereka, dan dia menghampiriku. Dia bilang dia mau teh manis.
Akhirnya kami membeli segelas es teh manis dan meminumnya berdua. Baru satu kali aku meneguk es teh, dan dia langsung mengambil alih gelas es teh dan meminumnya sampai habis. Dari mukanya, aku tahu dia menyembunyikan sesuatu. Jadi aku mendesaknya untuk bercerita kepadaku, seperti yang selalu ia lakukan kalau ia merasa tidak senang.
"Tadi aku minta minuman teh nya alvaro," dia bilang begitu.
"Terus?"
"Kata Alvaro gak boleh."
Hatiku mencelos. Adikku selalu begitu. Dia adalah anak kecil tercerdas yang aku kenal, dengan kemampuan mengingat dan menghitung yang luar biasa. Dia memiliki kemampuan berhitung diatas rata-rata untuk usianya, termasuk 5% dari populasi dunia. Dia banyak bicara, dan aku berspekulasi bahwa itu lah caranya menuangkan jalan pikirannya yang berbeda dengan teman-teman sebayanya itu. Dan itu juga yang mudah membuat anak kecil seusianya jenuh dan merasa kesal.
Dia pengidap ADHD, dan itu menjelaskan kenapa ia sulit bicara dan teman-teman sebayanya tak suka dengannya.
"Terus kamu bilang apa?"
"Aku bilang, 'yasudah tidak apa-apa', begitu kak."
Kemudian kami diam untuk beberapa saat. Dia duduk dengan gelas di tangannya, dan aku yang tersenyum seraya menahan air mataku sendiri. Aku tidak pernah tau anak seusianya bisa menjawab seperti itu. Ku pikir dia hanya diam saja, karena jika aku ada di sana, maka aku cuma akan diam dan melengos pergi. Tetapi ternyata anak kelas 1 Sekolah Dasar itu lebih memilih untuk bilang 'tidak apa-apa' dan masih mau bermain dengan mereka, meskipun segerombolan anak itu lebih memilih untuk menjauh dan menolak kehadiran adik bungsuku itu.
Dan hari ini, aku belajar tentang ketulusan dan kesabaran dari adik bungsuku yang asik dengan segelas teh manisnya.
Terkadang aku lebih belajar banyak darinya dari pada dia belajar dari aku.
leave a comment [0]