home
about
Denisa, female, 18
Indonesia

the 21st century version of rené descartes on a much lower intelligence level
links
soundcloud
instagram
archive
backward forward
long gone
"The problems arise when we begin to believe literally in our own metaphors."
— Dan Brown
Monday, August 25, 2014 @ 8:55 PM
Fluorescent Adolescent - Arctic Monkeys
"Lucu gak?"

Rasanya aku ingin menenggelamkan saja kepalamu ke dalam kolam penuh lumut dengan air mancur di tengahnya itu. Emosiku melunjak begitu saja karena pertanyaan retorismu.

Tentu saja tidak. Kamu juga sebetulnya tidak sedang berusaha melucu kan?

Atau mungkin menurutmu itu lucu. Atau mungkin kamu pikir menurutku itu lucu.

Dan tentu saja aku sudah melewati puluhan fase yang sama. Di mana aku harus berhadapan langsung dengan pernyataan-pernyataanmu yang ku usahakan dengan keras untuk ku mengerti. Aku mencoba mengerti gaya bicara dan lelucon mu, aku mencoba mengerti sudut pandangmu. Karena aku kerap kali berpikir kalau kamu terlalu egois untuk mengerti sudut pandang dan gayaku.

Atau mungkin aku lagi yang terlalu egois karena berusaha membuat perbincangan antara dua orang dari dua latar belakang yang berbeda seperti kita lebih nyaman?

"Lucu gak?"

Atau mungkin setelah aku menulis beberapa paragraf tadi aku baru mengerti kalau kamu mencoba untuk mengerti juga sudut pandangku. Atau aku yang terlalu percaya diri.

Mungkin kamu juga hanya sekedar berusaha sedikit saja membuat perbincangan antara dua orang dari dua latar belakang yang berbeda seperti kita lebih nyaman.

Mungkin kamu hanya mencoba menyamakan standar leluconmu dengan ku. Mungkin kamu benar-benar meminta pendapat.

Atau sebenarnya kamu ingin bilang. "Tidak lucu kan? Tentu saja tidak lucu buatmu, kan dunia kita berbeda."

Itu versi dramatis dan puitisnya. Kalau versi sebenarnya sih, "Kita kan bukan apa-apa."

Memang bukan, sih. Jadi aku kembali lagi ke logika ku dan berhenti berharap terlalu banyak. Lagi pula sepertinya kamu juga belum mengerti.

Kamu kan, masih kecil. Kamu masih terlalu egois untuk sekedar membaca maksud dan tujuanku memutar balikkan topik, hanya supaya aku bisa mendapatkan sekedar 15 menit tambahan membahas sesuatu denganmu. Kamu masih terlalu egois untuk tidak tersinggung saat aku tanpa sengaja mengatakan hal yang dalam sudut pandangku masih wajar, tapi bagimu sudah cukup dalam.

Kamu berbicara denganku seolah kamu tak punya rasa bersalah, ketika aku berusaha sekuat tenaga untuk memikirkan apa yang harus ku katakan dengan wajar, hanya karena aku mencoba untuk memiliki pembicaraan yang menyenangkan denganmu.

Tapi wajar saja bagiku.

Kamu kan, masih kecil. Belum mengerti.