home
about
Denisa, female, 18
Indonesia

the 21st century version of rené descartes on a much lower intelligence level
links
soundcloud
instagram
archive
backward forward
long gone
"The problems arise when we begin to believe literally in our own metaphors."
— Dan Brown
Tuesday, July 8, 2014 @ 11:23 PM
Mati
Kamu tahu? Karena kamu aku bahkan tidak bisa memikirkan satu paragraf saja untuk ditulis.

Biasanya aku akan meluangkan waktuku, paling tidak 2 jam, untuk merenung dan menulis sedikitnya 2 paragraf tentang isi kepala dan hatiku. Yang terkadang bertolak belakang dan membuatku butuh waktu yang lebih lama untuk mengubah rasa menjadi kata.

Kamu membuat aku kaku dan tak bisa menulis lagi.

Satu kali saja aku melihat wajahmu, dan aku bisa kehilangan kontrol akan hidupku sendiri. Aku kehilangan kendali akan akal sehat dan perasaanku. Melihatmu barang sekali saja bisa menghancurkan hidupku yang sudah ku tata sedemikian rupa tanpa ada sedikitpun celah untukmu masuk.

Dan aku baru sadar di sana lah salahnya.

Aku tak memberimu sedikitpun tempat untuk masuk. Barang satu inci pun tidak. Dan setiap aku melihatmu rasanya aku ingin memasukkan kamu lagi di dalam satu bab dalam hidupku. Tetapi aku sering lupa akan keputusanku sendiri. Tidak ada tempat lagi bagimu, tapi hatiku memaksa kamu untuk masuk. Jadi seharusnya pertanyaan tentang penyebab hidupku yang hancur setelah aku melihatmu sekali saja itu bukanlah pertanyaan besar.

Kamu bisa memporak porandakan hidupku dengan satu lirikan saja, dan kamu bahkan tidak tahu.

Atau mungkin kamu tahu, tapi kamu terlalu egois untuk menjaga gerak-gerikmu sendiri.

Atau mungkin aku yang egois.

Seharusnya aku bukan yang menjaga jarak denganmu? Yang sadar siapa aku dan siapa kamus sekarang? Aku tahu kalau kita hanyalah sebuah paragraf kecil dalam buku 296 halamanmu yang kamu sebut hidup itu. Mungkin kamu lupa. Aku tidak pernah tahu.

Melihat kamu di sana, kamu tahu rasanya seperti apa?

Tentu tidak. Kamu tidak pernah patah hati, kan?

Kalau pernah pun, kamu hanya minta maaf jika kamu seolah ada salah, lalu berlalu. Kemudian semua kata-kata manismu hanyalah bualan, karena kemudian kamu sudah bersinggah di hati yang lain. Padahal kamu pernah bilang aku lah satu-satunya.

Hanya saja sepertinya aku salah. Seharusnya aku sadar aku tidak seistimewa itu. Waktu berlalu, dan aku hilang begitu saja dari hidupmu. Aku bukanlah wanita dengan paras sempurna yang akan kamu kenang seumur hidupmu. Yang akan kamu ceritakan kepada anak laki-lakimu nanti, tentang siapa cinta pertamamu. Karena aku memang hanya orang biasa yang datang, bertahan, lalu pergi dari kamu.


Yang membuatku berbeda hanyalah fakta bahwa aku yang datang pertama kali.


Hanya itu saja yang membedakan aku dengan semua orang yang pernah singgah di hidupmu, kan? Aku yang pertama yang bahkan mungkin tak kau akui pernah melewati satu paragraf bersamamu. Itu belum sedih.

Kamu tahu apa yang sedih? Kalau ternyata kamu adalah semua dari ceritaku. Kalau ternyata di tiap harinya, kamu lah yang terakhir kali ada di kepalaku sebelum aku tertidur. Kamu bukan bagian utama di tiap hariku, tapi kamu lah bagian yang membuatku tetap hidup. Karena aku masih berharap bahwa akhir dari semua ini bagiku adalah kamu. Dan bagimu adalah aku.

Jadi kehilanganmu, rasanya mungkin seperti mati.