home
about
Denisa, female, 18
Indonesia

the 21st century version of rené descartes on a much lower intelligence level
links
soundcloud
instagram
archive
backward forward
long gone
"The problems arise when we begin to believe literally in our own metaphors."
— Dan Brown
Sunday, April 6, 2014 @ 8:44 PM
Like We Used To - A Rocket to The Moon
Aku pikir aku yang melebih-lebihkan. Tetapi ternyata setelah melakukan observasi terhadap diriku sendiri, aku tau aku memang bukan orang yang berlebihan. Ini empiris. Ini miris.

Kali ini aku memutuskan untuk berhenti naif. Saat lagu itu berputar di sebuah stasiun radio lokal, tanpa menunggu lama aku langsung mengarahkan tanganku ke tombol volume up. Kali ini mungkin waktunya untuk menyatakan semuanya secara gamblang.

Aku ketakutan setengah mati.

Aku takut dengan rahasia takdir. Aku takut dengan jalan ku yang masih kabur dan tidak membawa ku kemana-mana. Aku masih takut dengan fakta. Itu kenapa aku tidak pernah keluar lagi dari zona amanku. Aku takut dengan fakta.

Kali ini, aku akui aku salah. Aku yang menghancurkan semuanya. Aku kalah dengan ego ku sendiri. Aku kalah dengan tantangan. Aku terlalu mencintai komitmenku sendiri--komitmen untuk tidak mencintaimu. Entah lah, kata cinta pun masih terdengar sangat tabu di telingaku. Aku tidak mengerti kenapa aku masih menggunakan kata kolot itu. Di kepalaku, kata kolot itu sakral. Sakral, dan spesial. Hanya untuk orang-orang yang pantas.

Kali ini aku berhenti memutar balikkan fakta. Aku memang tidak pernah kehilangan perasaan itu. Karena aku tidak pernah benar-benar kehilangan perasaan itu. Aku tidak pernah berhenti menaruh hati. Aku tidak pernah bangun di pagi hari dan kehilangan harapan menunggu pesan singkat itu dari to do list pagiku. Aku tidak akan lupa Because of You dari Kelly Clarkson, aku tidak pernah lupa Will Smith dan I am Legend, aku tidak pernah lupa Stripped Adidas, aku tidak pernah lupa relasi antara piano, gitar, dan drum, dan tak bisa sedikit pun aku lupakan kebodohanku.

Maaf kalau aku punya salah, kalau kamu nggak mau menghubungi aku lagi, that's not even a problem.

Aku biasa saja.

Aku baru saja berbohong.

Rasanya tidak nyaman, kan? Saat kamu mengatakan sesuatu yang tidak dari hatimu yang bagian mana pun. Saat kamu menyatakan sesuatu yang tak satu pun bagian hatimu menyetujuinya. Tak satu pun molekul dari alam semesta ini tertipu dengan tipu muslihat hatimu. Karena kamu tau betul, kamu tidak sepenuhnya ingin menghapuskan rasa itu. Kamu tidak pernah benar-benar mau.



Sampai hari ini pun, aku masih sering membohongi diriku sendiri.