home
about
Denisa, female, 18
Indonesia

the 21st century version of rené descartes on a much lower intelligence level
links
soundcloud
instagram
archive
forward
long gone
"The problems arise when we begin to believe literally in our own metaphors."
— Dan Brown
Saturday, April 5, 2014 @ 10:34 PM
Breakeven - The Script
3 huruf saja, dan aku sudah memetakan pikiranku menjadi sebuah denah kompleks dengan banyak catatan kaki di sana sini. 3 huruf saja, dan 3 huruf itu pun biasa saja. Hanya karakter kelima, keenam, dan ketujuh dalam namaku. Tapi aku sudah berani berspekulasi macam-macam.

Jadi saat aku menerima pesan singkat berisi satu suku kata 'Dra' itu, aku cuma bisa membalas dengan satu suku kata lainnya. Suku kata terpasaran di dunia. Ya?

Ibu jariku gemetar saat menyentuh tombol send dan mengunci layar ponselku. Aku menatap lurus ke depan. Ibu kota macet berat. Tapi di saat seperti ini lah aku merasa menjadi manusia. Di antara ratusan kendaraan bermotor dengan pemilik yang bagiku semuanya sama, anonim. Di antara siluet-siluet anonim yang tidak pernah puas dengan apa yang mereka dapatkan hari ini, dan masih saja mencari kesenangan duniawi lainnya. Mereka seringkali tak menggubris air langit yang turun di atas ubun-ubun mereka.

Pikiranku berkelana. Imajinasi ku masih mempermainkan akal sehatku di tengah himpitan kendaraan bermotor ibu kota yang tak bergerak barang se-inchi pun. Aku terus menerus mengutuk imajinasi dan daya pikirku sampai aku sadar. Ini penipuan!
Hatiku mengkhianati akal sehatku sendiri.

Mataku menelusur sebutir air yang mengalir dari ujung kaca jendela mobilku saat aku bisa merasakan getaran ponselku di tanganku sendiri. Pikiranku memaksaku tidak memberi instruksi apapun ke mataku. Biarkan saja kelopaknya menutup.

Tapi hatiku selalu berkhianat, kan? Dengan sekuat tenaga hatiku melawan hukum biologis manusia. Ia memberikan job secara bersamaan ke mata dan tanganku. Hatiku percaya ada sesuatu yang harus ku lihat di ponselku itu. Dan aku tak perlu diingatkan untuk mengira-ngira apakah itu.

1 New Message

Sekarang, kah?

View

Kini hatiku memberi instruksi lagi ke mataku. Ia minta kelenjar air mata untuk bekerja sekarang juga. Ia minta pelampiasan karena ia sakit. Ia teriris dan ia tidak tau harus melampiaskannya ke mana. Ia lelah menjadi masa lalu bagi seseorang. Ia lelah tidak mendapat satu kesempatan pun untuk masuk lagi ke sana. Pikiranku bilang ini terlalu melankolis, tapi hatiku tau betul ia kehilangan belahan jiwanya.

Hatiku tau ia harus bersama siapa.

Tapi pikiranku adalah sebuah konstelasi pemikiran logis yang sudah ku asah bertahun-tahun. Dua kata 'patah hati' tak akan membuat otak ku menyerah dan membiarkan perasaanku mengambil alih semuanya.

Aku tidak menangis.

Aku tidak menangis, tetapi pikiranku juga sudah tidak peduli lagi dengan aku sekarang. Jadi tanganku pun tidak bergerak barang sedikit pun, bahkan untuk mengunci layar ponselku sekali pun. Pikiranku memberi instruksi kepada mataku untuk menutup kelopaknya.

Di tengah ibu kota. Mataku terpejam, tanganku menggenggam sebuah ponsel yang masih menunjukkan sebuah pesan singkat bertuliskan 'Sorry, nothing.'