Saturday, April 19, 2014 @ 12:23 PM
Hello It's Me - 4 Men
Aku tidak tahu dengan pasti. Pengetahuanku kabur. Yang pasti tak akan lebih dari 2 bulan lagi aku bisa melihatmu seperti biasanya di sekolah. Waktu ku sempit.
Dan aku tidak punya cukup keberanian untuk melakukan apa pun akan hal itu.
Menangis! Menangis saja!
Hatiku selalu bilang begitu kalau aku sudah hopeless masalah cinta. Ah sayang, tapi aku tak mau menangisi engkau. Bukan karena air mataku berharga. Bukan karena aku terlalu sayang kamu juga. Itu terdengar sangat berlebihan dan menjijikkan, kan?
Aku sudah lelah juga, mengejar sesuatu yang dingin dan tak berperasaan. Katanya, kamu pun bahagia kan menghancurkan hati wanita? Kata Gamma, kamu juga bukan pria yang seharusnya jadi sembahan semua banyak wanita. Kalau kata ibuku mungkin kata yang paling tepat untuk menggambarkan kamu itu bajingan.
Tapi tebak apa?
Aku tidak peduli.
Yang aku peduli itu hati kamu, yang masih terkunci dengan wanita itu. Aku juga bukan wanita jalang yang mau mengambil kamu dengan paksa begitu saja dari dia. Aku bukan wanita seperti itu. Dan aku juga tidak percaya dengan diriku sendiri. Cinta adalah satu-satunya kondisi di mana aku tidak percaya diri.
Teman-temanku juga bilang, cari yang lain saja.
Tapi aku keras kepala. Semua orang tau itu. Kamu mungkin tidak. Soalnya tau aku saja mungkin kamu tidak. Menyedihkan.
Lalu kenapa aku masih saja percaya sama hal yang tidak mungkin itu? Itu? Ya, itu. Mungkin pertemuan terakhir dengan latar romantis dan menyedihkan seperti yang ada di hayal orang banyak. Mungkin sebuah keajaiban besar di mana kamu berdiri di depan rumahku, membawa sebuah buket bunga perpisahan (yang sebenarnya aku pun tahu tak akan terjadi sebab; 1. kamu tidak tahu di mana rumahku 2. kamu kan sudah ada yang punya.) Atau mungkin, yang paling sederhana.
Aku cuma mau lihat kamu seminggu lagi di sekitarku. Hal yang logis dan bisa kamu lakukan, kan?
Tapi siapa aku ini? Mana bisa aku minta tolong begitu saja sama kamu. Paling saat aku bilang 'hai', kamu malah bertanya 'maaf, kamu siapa ya?'. Begitu kan, gambarannya?
Halo, ini aku. Kamu mungkin tidak kenal aku, tapi aku tau kamu.
Aku tahu kamu akan mengganti sepedamu setelah 2 minggu kamu gunakan. Aku tahu kamu menyingkirkan sayuranmus saat kamu makan siang. Aku tau kamu menulis namamu di sudut kanan bawah semua bukumu. Aku tahu hampir setiap Kamis siang kamu akan pura-pura sakit dan keluar dari kelas karena kamu sangat membenci statistika. Aku tahu seminggu sekali kamu akan menonton lagi Dead Poets Society dan menulis quote favoritmu di akun sosial mediamu.
Kamu bisa panggil aku stalker. Kamu bisa panggil aku creeps. Kamu bisa panggil aku gila. Tapi kalau kamu mau tau, aku cuma mau kamu panggil aku satu nama. Asha. Satu kata, 2 nada.
Halo.
Ini aku.
Dan aku tidak punya cukup keberanian untuk melakukan apa pun akan hal itu.
Menangis! Menangis saja!
Hatiku selalu bilang begitu kalau aku sudah hopeless masalah cinta. Ah sayang, tapi aku tak mau menangisi engkau. Bukan karena air mataku berharga. Bukan karena aku terlalu sayang kamu juga. Itu terdengar sangat berlebihan dan menjijikkan, kan?
Aku sudah lelah juga, mengejar sesuatu yang dingin dan tak berperasaan. Katanya, kamu pun bahagia kan menghancurkan hati wanita? Kata Gamma, kamu juga bukan pria yang seharusnya jadi sembahan semua banyak wanita. Kalau kata ibuku mungkin kata yang paling tepat untuk menggambarkan kamu itu bajingan.
Tapi tebak apa?
Aku tidak peduli.
Yang aku peduli itu hati kamu, yang masih terkunci dengan wanita itu. Aku juga bukan wanita jalang yang mau mengambil kamu dengan paksa begitu saja dari dia. Aku bukan wanita seperti itu. Dan aku juga tidak percaya dengan diriku sendiri. Cinta adalah satu-satunya kondisi di mana aku tidak percaya diri.
Teman-temanku juga bilang, cari yang lain saja.
Tapi aku keras kepala. Semua orang tau itu. Kamu mungkin tidak. Soalnya tau aku saja mungkin kamu tidak. Menyedihkan.
Lalu kenapa aku masih saja percaya sama hal yang tidak mungkin itu? Itu? Ya, itu. Mungkin pertemuan terakhir dengan latar romantis dan menyedihkan seperti yang ada di hayal orang banyak. Mungkin sebuah keajaiban besar di mana kamu berdiri di depan rumahku, membawa sebuah buket bunga perpisahan (yang sebenarnya aku pun tahu tak akan terjadi sebab; 1. kamu tidak tahu di mana rumahku 2. kamu kan sudah ada yang punya.) Atau mungkin, yang paling sederhana.
Aku cuma mau lihat kamu seminggu lagi di sekitarku. Hal yang logis dan bisa kamu lakukan, kan?
Tapi siapa aku ini? Mana bisa aku minta tolong begitu saja sama kamu. Paling saat aku bilang 'hai', kamu malah bertanya 'maaf, kamu siapa ya?'. Begitu kan, gambarannya?
Halo, ini aku. Kamu mungkin tidak kenal aku, tapi aku tau kamu.
Aku tahu kamu akan mengganti sepedamu setelah 2 minggu kamu gunakan. Aku tahu kamu menyingkirkan sayuranmus saat kamu makan siang. Aku tau kamu menulis namamu di sudut kanan bawah semua bukumu. Aku tahu hampir setiap Kamis siang kamu akan pura-pura sakit dan keluar dari kelas karena kamu sangat membenci statistika. Aku tahu seminggu sekali kamu akan menonton lagi Dead Poets Society dan menulis quote favoritmu di akun sosial mediamu.
Kamu bisa panggil aku stalker. Kamu bisa panggil aku creeps. Kamu bisa panggil aku gila. Tapi kalau kamu mau tau, aku cuma mau kamu panggil aku satu nama. Asha. Satu kata, 2 nada.
Halo.
Ini aku.
leave a comment [0]